Hanya Selembar Kertas Bertanda Tangan

Hanya Selembar Kertas Bertanda Tangan
Karya: LPM STITMA Tuban

“Standar dan ukuran kelulusan dalam tingkatan perguruan tinggi adalah mendapatkan ijazah (mendapatkan lable S1/red). Seorang mahasiswa akan merasa senang ketika sudah mendapatkan ijazahnya bahwa dirinya telah menyelesaikan perkuliahan dan lulus”. tutur Chanif

Pernyataan di atas bisa dianggap benar juga bisa dianggap salah, tergantung pada sudut pandang dan konteksnya. Namum, banyak hal yang kurang akan disadari dan dipahami oleh mahasiswa, bahwa orientansi masuk diperguruan tinggi hanyalah untuk mempermudah mencari pekerjaan tanpa adanya niatan murni untuk belajar. Memang hal tersebut tidak bisa dinafikan ketika pasca proses dibangku perkuliahan, sebagian besar sarjana hanya berorientasi untuk mencari pekerjaan. akan tetapi, karakteristik sebagai seorang mahasiswa masih kurang terlihat dalam ruang lingkup sosial, baik dalam segi intelektual maupun pada tanggung jawab sosial.

Tanggung jawab seorang mahasiswa bukan hanya ketika masih duduk dibangku kuliah saja, akan tetapi tanggungjawab itu lebih besar setelah proses diperkuliahan dengan mentransformasikan dan mengejahwentahkan apa yang sudah didapat diperkuliahan. Tapi hal tersebut apakah mungkin dan mampu sebagai tuntutan pasca proses ataukah muncul rasa menyesal?.

Mindset masyarakat terhadap seorang mahasiswa seakan sudah terbangun, bahwa mahasiswa adalah ladang intelektual muda, yang mana nantinya akan mampu merubah kondisi sosial dengan kapasitas intelektualnya. Tapi, hal tersebut masih belum tersadarkan oleh mayoritas mahasiswa, bahwasannya untuk mengasah intelektual bukan hanya mengikuti mata kuliah yang diajarkan dosen saja, tapi dengan diiringi membaca buku dan diskusi. Konyolnya ketika ditanya “anda sudah punya buku berapa?” dan “anda sudah membaca buku apa?” Bahkan ketika ada presentasi seakan tidak mempunyai pertanyaan, karena tidak pernah membaca dan berdiskusi. Lucunya, hanya ingin aktif dan mendapatkan nilai bagus Cuma karena tidak pernah ketinggalan absen. Parahnya lagi hanya ingin mendapatkan selembar kertas yang bertanda tangan Rektor (Ijazah/red).

Sebagai bahan wacana, apakah hal seperti ini masih ada di kampus kita? Bagaimana peran, fungsi dan tanggungjawab yang dipikul oleh mahasiswa dengan title dan embel-embel yang sudah menyatu dengan namanya?, Sudah saatnya mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Makhdum Ibrahim merubah mindset dan orientasi mahasiswa untuk lebih mengedepankan intelektual dan diskusi-diskusi daripada hanya  mendengarkan keterangan dosen belaka, untuk menorehkan sebagai catatan sejarah kaum-kaum intelektual.


STITMA STITMA STITMA…… Terdepan dalam perubahan
STITMA STITMA STITMA…… Berubah demi kemajuan

STITMA STITMA STITMA……

Belum ada komentar untuk "Hanya Selembar Kertas Bertanda Tangan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel