As Shobru Jamil


Oleh: Dinun Kamila


"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah 155)

"Andai Sangre Azul menjadi kiasan dalam keluargaku, semua akan menjadi baik", pikirnya dalam hati dan lamunanya ketika beberapa masalah yang datang dan menghantui mimpi-mimpinya. dia berandai-andai kalau dia menjadi salah satu keturunaan dari sebuah kerajaan atau disebutnya keturunan si darah biru pasti kehidupanya akan menjadi lebih baik, dia tak mengerti bahwa sebuah kekuasaan juga mempunyai masalah, karna memang sejatinya manusia tidak luput dari salah dan dosa.

Namun, beberapa menit kemudian gadis yang bernama lengkap Puan Shi Larasati ini terbangun dari lamunan tak berguna itu, dia bangkit dan dia bersemangat lagi menjalankan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya di rumah. Dia mempunyai 2 adik laki-laki dan 1 adik perempuan, sedangkan bapaknya hanyalah seorang tukang kayu yang gajinya lumayan jika banyak job pembuatan perabotan dari kayu. di usianya yang masih dibilang remaja ini dia telah banting tulang membantu ayahnya karna dia adalah anak sulung perempuaan dari 4 bersaudara. Ibunya yang setiap pagi menjual gorengan dipasar dan di sekolah, dia pun ikut membantu ibunya.

Semua tanggung jawabnya dilakukan dengan ikhlas, karena dia paham dialah yang paling tua dan siapa lagi yang akan membantu ibu dan bapaknya, sedangkan adiknya masih butuh manja dari kedua orang tuanya. Hingga di malamnya ditemani dengan lelah dia terbaring di atas tikar yang terbuat dari daun pandan, mata sipitnya terpejam.

Diusianya yang menginjak Remaja, dia tumbuh menjadi gadis cantik, berkulit putih, postur badan yang tinggi, berhidung mancung, rambut hitam bergelombang, serta mata dan wajah yang menyerupai orang Tionghoa, dan memang nenek moyangnya keturunan Tionghoa yang datang ke Indonesia pada masa penjajahan dulu dan menikahi gadis indonesia kemudian lahirlah nenek-nenek sebelum ibu dan dirinya.

Gadis yang mendapat julukan Si Kembang Desa ini, hampir setiap hari mendapat sorotaan dari kaum Adam karena kecantikan wajahnya serta keaggunan sikap dan perilakunya. Dan semua itu karena didikan dari Bapak dan Ibunya, meskipun mereka hidup didesa namun sikap dan perilakunya harus tetap berpendidikan. Tak jarang pemuda-pemuda kaya datang ke rumahnya entah dalan hal pekerjaan dengan Bapaknya ataupun sekadar mampir hanya untuk bertemu dengannya. Namun, dalam keluarganya masih berprinsip kereligiusan, meskipun berniat bertemu dengannya namun masih ada mahram yang menemaninya.

"Kamu adalah putri bapak yang pertama, kamu yang paling cantik dan baik Puan, bapak ingin berpesan denganmu jaga nama baik keluarga kita, meskipun kita hidup dalam kadar miskin, namun moral dan etika perilaku kita tetap terdidik. jaga dirimu baik-baik, jangan sampai kamu terjebak dalam hal yang merugikan" begitulah pesan bapaknya, sebab beliau sadar putrinya ini setelah beranjak dewasa banyak yang ingin meminangnya, namun sepertinya Bapak telah merencanakan sesuatu pada putrinya ini.

Puan sejak kecil sudah di didik mandiri oleh kedua orang tuanya, menjadi kakak dari adik-adiknya, menjadi wakil ibu untuk pekerjaan rumahnya, adiknya yang pertama sudah berumur 15 tahun, dia melanjutkan belajar di Pondok Pesantren Al-Hidayat Lasem, Jawa Tengah, sedangkan adiknya yang kedua berumur 14 tahun namun dia tidak melanjutkan pendidikanya mengikuti kakaknya, dia lebih memilih mengembala sapi dan kambing untuk biaya pondok kakaknya, sedangkan adik perempuan Puan yang terakhir berumur 12 taun dia masih bersekolah ditingkat SMP, wajahnya mirip dengan Puan namun Puan masih ada campuran wajah Indonesia China, sedangkan adiknya berwajah anak China asli.

Dari kecil hingga is dewasa, puan tidak pernah bermanja pada Ibunya, sejak kecil dia tinggal bersama neneknya di desa asal kelahiran. Puan dari kecil sudah diajarkan bagaimana hidup mandiri, hidup susah, bagaimana hidup dengan masyarakat, pada zaman dulu tidak ada PDAM, ketika mau mandi harus menimba dan bersabar karnaa jarak antara sumur dan rumahnya lumayan jauh. Semua aktifitas bersama neneknya dilakukan dengan senang, dia menganggap neneknya sebaigai ibu kedua setelah Ibu kandungnya, waktupun berjalan dengan cepat, hingga saat dia sudah menginjak masa remaja dan sang nenek yang sudah semakin menua, menjadikan kembalinya nenek pada sang Maha Kuasa, sedangkan puan kembali ke desa asal kelahiranya.

Semenjak puan berada di rumah, Puan selalu membantu kedua orang tuanya, beban kerja yang dipikul Bapak semakin ringan, begitupun dengan ibunya. Namun beberapa hari kemudian ada yang aneh dengan Bapak, beliau menyuruh Puan untuk membersihkan rumha dan merapikan penampilan puan.

"Nduk, nanti kamu bersih-bersih ya, setelah itu kamu dandan yang rapi dan siapkan makanan, dan minumanya" ucap Bapak.

"Ada apa toh pak, kok tumben disuruh bersih-bersih, terus puan disuruh dandan juga, biasanya bapak lebih suka puan gak dandan, katanya lebih ayu" dengan wajah heran dan penasaran.

"Wes toh nduk, nurut saja sama bapak", sambil senyum-senyum, sedangkan Puan hanya diam dengan kebingungan perintah Bapak.

Selang beberapa jam kemudian, semua utusan dari Bapak sudah dilaksanakan, rumah yang bersih, makanan dan minuman yang sudah dihidangkan dan penampilan puan yang sederhana namun masih terlihat anggun dan cantik.
Bapaknya keluar dari kamar dengan berpakaian rapi, begitupun dengan Ibunya yang juga menebar rona bahagia melihat putrinya yang masih kebingungan.

"Ini ada apa toh Pak? Memang kita mau kedatangan Pak Presiden?" Tanyaku penasaran.

"Wes toh nduk, kamu ini diam saja nanti kamu juga akan tahu, nurut saja sama bapak" ucap Bapak.

Tiba-tiba datang beberapa motor yang pada waktu itu motor sudah menjadi kendaraan yang paling berharga di zaman dulu, orang yang sudah mempunyai motor bisa dibilang dia paling kaya.

"Lho, tamunya sudah datang, kamu nanti jaga sikap ya nduk, jaga adik-adikmu juga dikandani, seperti yang  Bapak ajarkan kepada kamu, tentang sopan dan santun dan sikap berpendidikan" jelasnya.

"Njeh Pak" jawabku mengiyakan.
Bapak dan Ibu keluar rumah dan menyambut tamu yang sudah di tunggu.

"Monggo, masuk Pak Haji."

"Njeh-njeh, matur nuwun, monggo Pak."
Puan, ibu dan adik-adiknya bergantian salaman dengan tamu.

"Ohh, ini toh yang namanya Puan itu?"

"Nj Njeh eh Pak Haji" kata Bapaknya.

"Gendukmu iki joss tenan lho pak, saya tidak salah pilih menantu untuk anak saya, sekarang perkenalkan namamu cung."

"Nuhun Pak Bu, nama saya Rama Panji Lasamana, saya meminta restu Bapak dan Ibu untuk kelancaran hajat saya ini" ujar Panji.

"Njeh nak, Bapak dan Ibu juga mendukung hajatmu, semoga ini yang terbaik."

Lalu, silaturahim ini berlangsung dengan baik, hingga pada perbincangan yang lebih resmi tentang lamaran Puan dan Panji, Puan yang tidak tau apa-apa tentang penjodohan ini merasa bingung, "ada apa ini kok langsung penjodohan" kataku dalam hati.

"Bagaimana nak Puan, sudah siap menjadi menantu kami dari nak Panji?", kata Pak Haji Rohman.

Dengan bingung, heran dan haru dia menatap Bapak dan Ibunya.

"Terima nak, ini jodohmu" kata Bapak dalam hati sambil mengisyaratkan anggukan 2 kali tanda ini adalah baikmu nak.

"Njeh Pak Haji, sama mau menerima lamaran mas Panji" jawabku pasrah.
Acara silaturahim berjalan dengan lancar dan malamnya Puan di nasehati oleh Bapak.

"Nduk, kamu ini sudah besar, dan bapak sudah tua, kamu tak pilihkan suami yang sudah mapan, sudah terlihat bibit, bobot, bebetnya, kamu yang baik, yang sopan dan jangan lupa dengan apa yang sudah bapak ajarkan, nanti kalau kamu sudah menikah taati suamimu, taati mertuamu selagi itu apik nduk, tapi kalau kamu diberlakukan tidak pantas oleh suamimu kamu boleh pulang nduk" jelas Bapak.

"Njeh Pak, saya manut, nuhun pak amanatipun" jawabku kalem.

"Iya nduk, wes lha tidur, besok kamu bangun pagi seperti biasa, bantu ibumu."

"Njeh Pak."

Waktu pun berputar, hari pun berganti dengan cepat, hingga pada hari pernikahanya puan sama Panji, semua nampak bahagia dari keluarga putri dan putra, sangat cocok karena cantik dan tampan sang pengantin. Sudah sah menjadi suami dan istri, bahagia menyelimuti mereka berdua makan berdua, ke manapun berdua, pergi ke kamar mandi berdua, memang inilah pasangan pengantin baru, namun berselang beberapa bulan ada yang berubah dari Panji yang tak mau berbagi gaji dengan istrinya, makan tak enak langsung buang, di sinilah kesabaran Puan diuji.

"Ini suamiku, taati dia, ingat kata bapak Puan, sabar" batinnya mengadu.

Kejadian seperti ini masih berjalan hingga hampir 2 bulan dan akhirnya Puan kembali ke rumahnya setelah melakukan semua pekerjaan rumahnya, tanggung jawabnya sebagai istri dan menantu dari keluarga terhormat ini. Sedangkan Panji setelah pulang dari kerjanya mencari Puan yang tidak ada di kamar, dia merenung memikirkan istri dan  kesalahanya. Dan besoknya dia pergi ke rumah mertuanya untuk menjemput Puan.

"Nak, Puan ini sudah menjadi istrimu, semua tanggung jawabku sudah tak berikan kepadamu, kamu yang baik, kamu yang bijak, kamu yang harus menjadi imam yang baik untuk istrimu. Jaga dia, nasihati dia jika salah, tapi jangan diamkan dia, jangan bentak dia, wanita itu lemah, wanita itu hanya sebagai tulang rusuk bagimu nak, jika dia bengkok pasti akan lama untuk kemnali menjadi lurus, jika dia patah dia akan susah untuk kembali, jadi kamu juga harus bersabar dalam manghadapi istrimu."

"Iya pak, saya minta maaf, karena saya juga belum sepenuhnya paham secara matang dalam hal pernikahan, jadi saya juga berterima kasih karena Bapak sudah menasehati saya, sudah mengajari saya tentang hidup dalam pernikahan."

"Iya nak, ya wes lha diajak pulang itu Puannya, Bapak tak kerja dulu, lek mau makan lha makan istrimu lha diajak, Ibumu tadi sudah masak, istrimu itu di kamar, lha dibujuk ben atinya adem.

"Njeh pak, nuhun sewu."

"Iyo wes ndang susul" sambil meringis.

Bujukan Panji berhasil, dan dia juga berhasil mengajak istrinya kembali ke rumah. Setelah sekian tahun, kurang lebih 45 taun mereka menikah dikaruniai anak 5, anak yang pertama perempuan, anak yang kedua laki-laki, ketiga, keempat dan kelimanya perempuan, mereka juga mewarisi ketampanan dan kecantikan Bapak dan Ibunya.

Rasa syukur pun selalu hadir dalam hati puan, dewa keberuntungan yang sedang berpihak dalam kehidupannya. Bagaimana tidak, dia yang terlahir dari keluarga yang biasa namun memiliki bapak dan ibu yang bijaksana, bapak yang cerdas, meskipun tidak sekolah setinggi sarjana, namun pendidikannya lebih baik dari kadar seorang petani biasa, didikannya oada sang putri membawa nasib baik tersendiri. Puan yang hanya mengandalkan pengalaman dalam bermasyarakat, penuturan dari sang Bapak, menirukan sikap sopan dan santun dari sang Ibu mengantarkannya menjadi seorang gadis yang anggun, cerdas dan terdidik. selain itu dia telah menjadi bagian dari keluarga terpandang, bisa dikatakkan keturunan darah biru, meskipun ada sedikit konflik naamun puan tetap sabar dan bersyukur dengan apa yang telah dimilikinya.

Dari sini kita tahu bahwa sebuah ujian itu melatih kesabaran kita, bagaimana kita syukur atas nikmat yang diberikan dan sebuah ujian, sabar dan syukur akan menjadi kebahagiaan yang abadi.

Tentang Penulis:
Dinun Kamila, salah seorang anggota Lembaga Pers Mahasiswa Makhdum Ibrahim Tuban yang pada saat ini tengah menjalani kuliah semester satu. Dinun adalah panggilan akrabnya, lahir di Desa Brengkok, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan.

Belum ada komentar untuk "As Shobru Jamil"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel