Dadakan yang Berkesan


Oleh: Mifta Siswi Octavina

Ini tidak kali pertama ku berada di atas panggung menghadap banyaknya mata terpasang dengan saksama, ini entah yang ke berapa kalinya ku menghadap banyaknya pasang mata memandang dengan duduk tanpa ada sandiwara. Di atas arena yang biasanya di perdegupkan hatinya dengan alasan kata "grogi" yang membuatnya malah menjadi tidak perfection walau hanya berdiri tanpa bersuara dan bergerak.

Malam itu, tanpa ada persiapan sedikitpun untukku ikut serta melancarkan acara pagelaran mahasiswa-mahasiswi baru yang mana akan menjadi salah satu syarat sah sebagai mahasiswa kampus tersebut. Memang, di pagi hari saat kusibuk dengan antah berantah segala apa yang diamanahkan terhadapku untuk menggiring sedikit banyaknya anak orang yang akan menjadi mahasiswa di kampus ini, ada sedikit perkataan singkat yang di utarakan oleh seorang teman yang juga akan ikut serta mensukseskan pagelaran mahasiswa-mahasiswi tersebut. Perkataan itu berisikan untukku agar siap diri jika malam tiba nanti setelah sholat isya selesai, aksi-aksi akan dimulai dan perkataan itu membuatku antara ragu dan meyakininya. Entahlah, tunggu saja nanti bila tiba saatnya

Sok sibuknya diriku dengan segala aktivitasku bersama anak-anak orang hingga menjelang sore hari. Sebelum melepaskan tangan, terlebih dahulu ku memberi sedikit koreo yang ku bisa, ya paling-paling ada sedikit tari di sertai puisi juga paduan suara yang wajib di lakukan untuk mengisi pagelaran mahasiswa baru di senja dan malam hari.

Sesaat waktunya tiba, banyak sekali suguhan tiap-tiap regu menampilkan karya mereka masing-masing. Hati dan pikirku melayang dengan tanpa arah, merasa selalu yang di suguhkan dari sebagian mereka itu paling menyita hati para juri. Hanya kepasrahan dan do'a saja yang di haturkan kepada-Nya. Segala hasil dan ketentuan yang diberikan haruslah di terima dengan nyaman. Rasa yang bercampur aduk tadi dapat sedikit kutepiskan dengan ikut serta bernyanyi dan bergoyang bersama mereka yang ada di atas panggung juga pun seluruh audience.

Selang beberapa waktu, anak-anak orang yang sudi menurut dan memahami perintahku pun memulai dengan aksi-aksi mereka, yang pastinya support dan dukungan penuh semangat kulontarkan terhadap mereka. Bukti bahwa kepedulianku terhadap mereka tidaklah sekedar karena ku ingin dapat sanjungan dari berbagai pihak, melainkan melatih mental dan kepekaan mereka terhadap apapun yang terjadi serta menerima hasil dari apa yang telah diusahakan. Mereka memulai, segera kupasang dengan kedua tangan dan jari-jemariku sebuah kotak bercahaya yang mampu menyimpan berbagai macam hal. Hasilnyapun, mereka mampu membuatku bangga dengan hasil jerih payah yang di lakukannya dengan keberanian yang ditunjukan.

Malam pun datang, setibanya sholat maghrib aku bersama teman-teman nyamanku sedang berada di musholla yang berada di barat pojok selatan sebelah panggung pertunjukan. Dengan santai dan banyak berbagi cerita juga menunggu waktu masuk sholat Isya' tiba, kami setidaknya memanjakan badan sejenak meski satu jam kurang lamanya. Adzan berkumandang, menunjukan waktu memasuki shollat Isya'. Seusai melaksanakan kewajiban, mukena baru kulepas dari kepala datanglah seorang teman laki-laki dengan terbata-bata dan nampak gugup mencariku, dengan perkataan dan napas tidak karuan sedikit nada meninggi, mungkin efek karena terlalu lama mencari dan menungguku.

Dengan cekatan aku langsung mengiyakan dan meski rasa bertanya-tanya itu bermunculan. Baiklah, aku berpikiran bahwa semua ini ku hanya bermain bersama orang-orang pecinta seni di atas arena permainan yang di saksikan banyak sepasang mata. Sedikit bertanya untuk memastikan ku harus menepatkan posisi di mana dan sedikit peregangan otot-otot yang lumyan kaku akibat banyaknya berjalan. Setibanya kami bermain, ku ikuti suara gambang yang bersamaan dengan nyanyian.

Sebenarnya ada sedikit kesulitan yang mengganjal hati, dengan melenggang dan membawa satu barang di tangan berupa senter, melakukan tanpa haru sadanya keraguan. Banyak yang menebak siapakah yang melenggang itu, semacam kenal tetapi mana mungkin? Karena selain atributku yang ku kenakan tadi ada juga rok yang hampir mirip kebaya serta kukenakan topeng separuh wajah yang hanya menutupi hidung juga kantung mata. Seusainya, banyak pertanyaan berisikan penasaran yang mengarah kediriku. Misteri itupun terjawab karena hasil observasi mereka masing-masing di saat acara tiba aku tiada di sekitar latar. Lebih baik tiada yang tahu daripada mereka tahu kemudian di jadikan bahan kagum- kagum berlebihan, bukan maksud angkuh hanya saja sedikit tak suka dengan demikian. Rasa syukur sedikit banyaknya hasil pecinta seni yang kami dapati. Entah, itu sangat membuatku berkesan pada malam puncak tersebut.

Pagi ku rasa kantung mataku cukup lelah, dengan adanya ritual-ritual syarat sebagai mahasiswa baru yang di lakukan di malam hari menjelang fajar menyapa, apalagi ketambahan harus mengurusi anak orang yang kehabisan napas hingga tidak sadarkan diri, begitu lumayan membutuhkan tenaga. Tetapi rasa lelah itu hilang ketika bersama-sama melakukan senam riang yang menunjukan akhir atau penutupan Ospek mahasiswa. Begitu selesai, pengumuman hasil dari pertunjukan tadi malampun disuarakan. Hasilnya tanpa disangka, ternyata regu anak- anak orang yang sudi menurut dengan tiap-tiap kataku itu menyandang gelar predikat juara 2 dari hasil pertunjuka tadi malam, dengan bahagia lelah mereka terbayarkan.

Sepulang acara ini, mereka memanggilku dengan riang dan sedang membongkar kotak boks besar yang berisikan jajanan ringan. "Selamat ya, terima kasih atas segala tenaga yang sudi dikerahkan dan telah sudi menurut dengan tiap-tiap perkataanku, maaf jika selama bersama kalian telah menyakiti perasaan kalian" kataku. Mereka membalas perkataanku dengan menurut lisan mereka masing-masing. Seakan berpamitan, mereka memberi sebagian jajanan ringan mereka terhadapku, sungguh kepekaan kebersamaan selama ini begitu membangun.

Akhirnya semua berjalan sesuai dengan kehendak dan rencana yang benar-benar matang.

Tentang Penulis:
Mifta Siswi Octavina adalah salah tiga mahasiswa STITMA Tuban semester I. Dia merupakan anggota Lembaga Pers Mahasiswa Makhdum Ibrahim.

Belum ada komentar untuk "Dadakan yang Berkesan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel