Kesadaran atau Gertakan

Sumber Gambar: Pexels.com
Oleh: Fee

"Mau jajan apa?"

Padahal tadi baru saja makan ayam geprek dengan porsi yang nggak biasa. Ini dijajanin lagi, biar gendutan katanya.

"Jalan aja dulu sih, Kak. Sambil milih mau jajan apa."

Kepalaku ke kiri dan kanan. Menatap para pejalan kaki yang mayoritas berpasangan, sekaligus meneliti para pedagang kaki lima yang menawarkan dagangannya.

"Jajanan sempol doyan?"

"Doyan, tapi lagi nggak minat," ucapku sekenanya. Udah jadi kebiasan irit bicara. Karena menurutku, banyak bicara cuma buang-buang masa dan tenaga. Tapi itu jika apa yang dibicarakan memang sama sekali nggak ada faedahnya.

"Kok kamu apa-apa doyan sih?"

Aku menatapnya ngeri. Yang benar saja apa-apa doyan. Aku disuguhin pempek yang kata orang rasanya paling enak se-nusantara pun tetap nggak suka. Enek, pengen muntah. Atau digratisin sampai segerobak pun, bakalan aku tolak mentah-mentah.

Tidak menghiraukan ucapannya, aku justru heboh sendiri begitu menemukan apa yang aku cari.

"Kita jajan itu aja!"

"Telur gulung?" Sebelah alisnya terangkat, lucu. "Mau berapa ribu?"

Aku berpikir sejenak sebelum memberinya jawaban yang sebenarnya tidak bisa dikategorikan sebagai jawaban. "Terserah deh, aku ngikut aja."

Tak tanggung-tanggung, yang dibeli ngalahin porsi kuli. Ini siapa nanti yang habisin ya? Ah, yang paling penting sekarang, cari tempat nyaman buat makan.

Sembari fokus memakan jajanan sederhana tapi enaknya luar biasa itu, pikiranku melanglang buana. Kalau biasanya pedagang yang gulung tikar, artinya mereka mengalami kerugian. Pedagang yang gulung telur, artinya apa ya?
Entahlah. Mikirin itu nggak bisa bikin aku jadi kaya raya. Kecuali kalau aku ikut jualan seperti mereka.

"Mbak, minta sedekahnya, Mbak. Saya belum makan dari pagi."

"Kak, ada yang minta sedekah." Segera aku letakkan tusuk-tusuk sate berlapis dadaran telur gulung itu ke sebelahku. Berganti menggoyangkan lengannya karena dia mendadak jadi tak acuh kepada sesama.

"Mas, aku kasih ini aja gapapa ya? Lumayan kok buat ganjal perut." Kuangkat kembali telur gulung yang sempat kucampakkan.

Mas-masnya keukeuh tetap mengucapkan narasi yang sama seperti pertama kali menghampiri kami. "Mbak, minta sedekahnya, Mbak. Saya belum makan dari pagi."

Belum makan tapi dikasih makanan nggak mau. Ini gimana coba? Mana dari rumah nggak bawa dompet lagi karena emang niatnya mau minta gratisan.

Menyerah, Mas-mas tadi berjalan menjauhi kami.

"Kak, kok pelit sih?" Dia balas menatapku santai.

"Dia kan masih muda. Tapi kayanya jiwa mudanya udah hilang entah ke mana. Bukannya semangat cari kerja, malah milih minta sedekah."

Melupakan kekesalanku karena sikapnya yang tidak menghiraukan sesama, aku justru lebih berminat mendengarkan petuahnya dengan saksama.

"Ibu kamu berapa usianya?"

"49."

"Kerja 'kan?" Aku mengangguk, mengiyakan.

"Perempuan, usianya sudah separuh baya. Tapi masih punya tekad dan semangat buat kerja. Nah, dia masih muda, malah milih minta-minta buat jadi pekerjaannya."

Ah, benar juga. Ibuku yang perempuan saja bisa jadi tulang punggung keluarga. Kerja pontang-panting biar anak-anaknya bisa sekolah.

"Aku bukannya nggak peduli." Dia melirikku lewat ekor matanya. "Itu kan yang ada di pikiran kamu?" Dan tentu saja aku mengangguk, membenarkan tebakannya yang memang benar seratus persen.

"Seseorang bisa berubah itu karena dua hal. Kesadaran, atau gertakan." Dia berdiri dan menatapku lagi. "Yuk, lanjut jalan!"

Aku menurut, bangkit, kemudian mengikuti langkahnya. Tentu saja beriringan, bukan di depannya karena takut ditinggal sembunyi, apalagi di belakangnya seperti aku ini anak kurcaci. Atau lebih parahnya, aku dikira anak buahnya.

"Kak, terus yang tadi itu apa? Gertakan biar sadar?"

"Enggak."

"Terus?"

"Emang lagi pengen diem aja sih," ucapnya teramat santai, tapi membuatku ingin membantai.

"Katakanlah begitu." Akhirnya ia menjawab dengan kewarasan yang penuh. "Kira-kira lewat diamku tadi, apakah dia bakalan sadar?"

Aku agak mendongak agar bisa menatap netra coklatnya. "Bisa jadi iya, bisa juga enggak."

"Kayak kamu kalau lagi aku diemin, kira-kira sadar nggak salah kamu apa?"

Pria dengan selisih tinggi badan 15 cm dari tinggi badanku ini menggeser tubuhku. Merasa aku berjalan semakin lama semakin minggir hingga membuatnya hampir menabrak orang-orang yang sedang mengantre di setiap lapak jualan.

Tidak tahu juga kenapa langkahku jadi serong ya?

"Enggak." Aku menjawab tanpa ekspresi. Sengaja, pengen tahu bagaimana reaksi dia selanjutnya.

"Semoga aja mas-mas yang tadi nggak kaya kamu ya?"

Aku bergidik ngeri. Yang jelas, aku tidak mau juga disamakan sama dia. Dari kelamin juga sudah beda.

Belum ada komentar untuk "Kesadaran atau Gertakan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel