Bisa Apa Kami Selain Menulis di Sosial Media?

Jadi, Bisa Apa Kami Selain Menulis di Sosial Media?

Assalamualaikum wr. wb
Bismillahirrahmanirrahim.
Sengaja sebelum menulis saya baca basmalah, agar tulisan ini menjadi lebih berkah.

Sebenarnya agak malas menulis di blog LPM lagi. Kenapa? Karena ada instruksi yang tidak membolehkan kami —para mahasiswa-mahasiswi— membuat tulisan yang seakan-akan menyudutkan. Menyudutkan salah satu pihak yang merasa dirugikan. Tapi, kami ini agen perubahan. Bukan agen kaleng-kalengan. Tulisan yang menurut kami benar, kami rasa tidak ada yang perlu dilarang. Dan dari tulisan kami lah, kami berharap pihak yang bersangkutan segera melakukan pembenahan.

Ada kalanya kami bersikap biasa saja ketika kami di hadapkan dengan kondisi yang sewajarnya. Pun ada kalanya kami mulai bersuara ketika kami di hadapkan dengan kondisi yang tidak semestinya. Kami hanya menempatkan setiap hal berada tepat pada tempatnya, menyesuaikan keadaannya.
Tentang pujian dan kritikan. Kedua hal itu tidak hanya akan kita dengar di panggung perlombaan. Kita bisa mendengarnya di mana saja, kapan saja, dan untuk siapa saja. Curhatan pun saya rasa tidak hanya akan kita tulis di buku harian. Kita bisa menuliskannya di sosial media mengikuti arus zaman.

Lagi pula, apa yang salah dari keluhan manusia? Kami hanya makhluk bernyawa yang bisa merasakan bagaimana rasanya lelah. Kami bukan robot, yang siap sedia melakukan apa saja yang diperintahkan kepadanya. Sekali lagi saya tegaskan, kami ini manusia biasa. Lelah dan berkeluh kesah itu hal biasa. Jika memang tidak ingin mendengarkan hal demikian, jangan menjadi manusia. Jangan pula mengaungkan kalimat ingin menjadi sosok manusia yang memanusiakan manusia lainnya.

Ingin tertawa ketika mendapati salah satu dosen meminta agar kami sebaiknya menyelesaikan apa yang kami permasalahkan dengan bicara empat mata. Dan jangan sekali-kali diumbar di sosial media. Tanpa mau tahu bagaimana keadaan di balik layar. Sudah cukup lelah berkoar-koar, nyatanya suara kami tak pernah didengar. Sudah ngetik panjang lebar, nyatanya pesan yang kami sampaikan tak juga menuai balasan.

Jadi, bisa kami apa selain menulis di sosial media?

Maaf, jika lagi-lagi apa yang saya tulis cenderung menyakiti hati. Saya hanya mencoba menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan juga apa yang tidak bisa teman-teman lain sampaikan. Anda tahu, curhatan tanpa solusi tentu saja tidak melegakan. Jadi, tolong beri kami solusi, bukan memberi instruksi untuk tidak menulis seperti ini lagi. Atau jika tidak bisa demikian, kurangi saja tugas-tugas dan jam belajar yang menurut kami sangat berlebihan.
Terima kasih.

Wassalamu'alaikum wr. wb

Oleh: Mahasiswa IAINU Tuban.

Belum ada komentar untuk "Bisa Apa Kami Selain Menulis di Sosial Media?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel