Membangun Peradaban Islam di Era Revolusi Industri 4.0 Melalui Media Sosial


Sumber gambar: pixabay. com. 
Oleh: Prayogi Pambudi

Di abad 20 sekarang ini, yang ditandai dengan majunya teknologi juga disebut dengan era revolusi industri 4.0. Era revolusi industri 4.0 ini menuntut masyarakat untuk tidak lagi cukup hanya memenuhi kebutuhan yang bersifat primer saja, melainkan pada kebutuhan yang bersifat skunder dan tersier seperti kendaraan, computer, handphone, internet dan sebagainya. Sebab semakin cepatnya arus informasi dan semakin beragamnya media komunikasi massa akan mengantarkan umat manusia kepada transformasi. Inilah abad komunikasi massa dimana semua dipercepat, dipermudah dan disederhanakan. Semakin cerdas manusia, semakin kompleks dan rumit komunikasi yang dilakukan.

Kemajuan teknologi informasi, melahirnya produk-produk modern yang memudahkan manusia dalam berbagai hal. Media sosial menjadi satu dari produk modern yang begitu populer saat ini. Multifungsi yang ditawarkan media sosial mengundang banyak peminat untuk mendaftarkan diri sebagai penggunanya. Terlebih ketika internet dengan begitu mudahnya dapat diakses melalui smartphone yang semakin marak keberadaanya dan hampir dimiliki oleh setiap orang dari berbagai kalangan. Di samping itu, jangkauan internet yang telah meluas dari yang hanya di perkotaan telah sampai ke pelosok pedesaan semakin menunjang jumlah pengguna media sosial.

Berdasarkan laporan terbaru We Are Social atau HootSuit yang dikutip dalam https://inet.detik.com/ , pada tahun 2020 disebutkan bahwa ada 175,4 juta pengguna internet di Indonesia. Berdasarkan total populasi Indonesia yang berjumlah 272,1 juta jiwa, maka itu artinya 64% setengah penduduk RI telah merasakan akses ke dunia maya. Dalam laporan ini juga diketahui bahwa saat ini masyarakat Indonesia yang menggunakan ponsel sebanyak 338,2 juta. Begitu juga data menariknya ada 160 juta pengguna aktif media sosial. Adapun media sosial yang paling banyak digunakan oleh pengguna internet di Indonesia adalah YouTube, Whatsapp, Facebook, Instagram, Twitter, Line, Facebook, Messenger, We Chat.

Melihat banyaknya pengguna media sosial serta mudahnya pengaksesan media sosial di Indonesia, maka tidak jarang dari penggunanya mencari peluang untuk mendapatkan keuntungan melalui media sosial. Dengan demikian, saat ini menjadi hal lumrah yang dapat dimaklumi ketika media sosial dijadikan sebagai lapak dagang penggunanya.

Dalam kaitannya dengan ini, tidak sedikit remaja yang memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk menemukan jati diri. Masa remaja berkaitan erat dengan perkembangan “sense of identity vs role confusion”, yaitu perasaan atau kesadaran atas jati dirinya. Remaja dihadapkan pada berbagai pertanyan yang menyangkut keberadaan dirinya (siapa saya?), masa depannya (akan menjadi apa saya?), peran-peran sosialnya (apa peran saya dalam keluarga dan masyarakat dan kehidupan beragama, mengapa harus beragama?).  Pada proses inilah media sosial menjadi penting bagi banyak remaja, dimana di media sosial mereka mendapat banyak informasi yang mereka butuhkan (terlepas akurat atau tidaknya) dari berbagai sumber.

Tidak terkontrolnya pengguanan media sosial pada remaja akan sangat berpengaruh pada pribadi mereka. Tidak jarang dari para remaja yang gaya hidup, tindak-tanduk dan pemikiranya mengikuti tren yang informasinya diperoleh dari media sosial. Fenomena ini seakan membuktikan kebenaran teori persamaan media yang berasumsi bahwa media diibaratkan manusia. Media bahkan dianggap seperti dunia nyata (media and real life are the same).  Kebenaran asumsi teori ini dapat dengan mudah dibuktikan dengan hanya mengamati status, foto maupun video yang diunggah pengguna media sosial dari kalangan remaja di facebook dan instagram meski dengan tujuan yang beragam. Media sosial sering juga difungsikan oleh para pengguna remaja sebagai penghibur, pelampias perasaan, serta sebagai media untuk mencari informasi mengenai berbagai hal.

Hal yang paling dikhawatirkan dari remaja saat menggunakan media sosial ialah ketika mereka yang sedang mengalami perkembangan sikap “conformity” dengan mudahnya mengamini begitu saja berbagai hal yang disajikan di media sosial tanpa melibatkan nalar kritisnya. Padahal, tidak setiap informasi yang dimuat media sosial terjamin keabsahannya. Informasi-informasi bohong atau yang lebih sering disebut dengan hoax saat ini sudah menjadi tren tersendiri yang harus ekstra di waspadai. Dalam menyikapi hal seperti ini, pengguna media sosial harus melakukan mekanisme tabayun, yaitu menyaring informasi-informasi yang datang, kemudian menelaahnya, melakukan proses kritis, melakukan penyelesaian serta mengolahnya untuk kepentingan kemajuan peradaban.

Dalam kaitanya dengan tingginya demografi pengguna media sosial, memanfaatkan media sosial sebagai sarana berdakwah merupakan hal yang tepat. Menyampaikan nilai-nilai ajaran Islam melalui media sosial dengan desain baru dan unik tanpa mengurangi esensinya diharapkan akan mempermudah pencapaian misi dakwah yang sesungguhnya.

Remaja sebagai pengguna aktif media sosial yang cukup besar semakin memperkuat alasan mengapa dakwah di media sosial harus dilakukan. Hal ini dikarenakan remaja memiliki peran besar dalam menentukan nasib peradaban suatu bangsa maupun agama. Oleh karena itu remaja harus diberdayakan potensinya dengan baik. Dan akan mengalami degradasi manakala remaja tidak diberdayakan potensinya. Melalui dakwah inilah diharapkan pula dapat menjadi solusi strategis dalam menangkal permasalahan dekadensi moral dan degradasi spiritual yang dewasa ini banyak melanda kalangan remaja. Terbentuknya moral unggul dan spiritual yang mendalam pada pribadi remaja, akan membuat sebuah perubahan ke arah kebaikan dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan demikian, nasib peradaban Islam di masa yang akan datang dapat dipersiapkan sedari saat ini, salah satunya yaitu melalui pemberdayaan remaja dengan menggunakan pendekatan dakwah di media sosial. Oleh sebab itu perlu dirancang strategi berdakwah yang representatif sehingga dakwah di media sosial menjadi lebih efektif. Seperti halnya berdakwah sederhana di media sosial yaitu dengan berdakwah menggunakan gambar kreatif dan vidio berdurasi singkat yang sarat akan pesan moral.

Dalam mengatasi perkembangan teknologi yang pesat ini diharapkan selalu membekali diri dengan ilmu pengetahuan yang berkualitas dan sesuai dengan syariah dan akidah yang berlaku di Islam sehingga kita bisa membangun peradaban lewat media sosial.

Tentang penulis:

Sang penulis adalah pemenang juara pertama "essay Competitision" yang diadakan oleh UKM LPM Makhibra bulan Februari lalu, dia juga salah satu mahasiswa IAINU Tuban yang masih aktif tepatnya tengah menjalani semester tiga.

BIODATA:

Nama Lengkap : Prayogi Pambudi

TTL        : Tuban, 28 Januari 2001

Alamat : Ds. Talun Kec. Montong Kab. Tuban

No. Hp : 082242393919

Program Studi : Pendidikan Agama Islam 2019

Email : jubungjr28@gmail.com

Belum ada komentar untuk "Membangun Peradaban Islam di Era Revolusi Industri 4.0 Melalui Media Sosial"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel