Rinai di Mataku


Sumber gambar: www.pinterest.com

Oleh: Uswah Faqoth

Anak sungai itu kian menderas seiring tutur yang berdenting membelai
Tak peduli sekalipun mentari telah mengistirahatkan diri
Bahkan ketika pelangi sudah mengirim riang pun rinai itu tetap bertirai
Menyandingi diri yang semakin larut dalam duka nurani

Tak ada yang tahu betapa pilu dan kecewa telah bersatu mencabik relung hati
Akal dan sanubari terus berperang saling membanggakan diri
Dia berharga dan akan selalu istimewa, kataku suatu hari di musim semi
Aku benci dia dan tak akan mengampuninya, ujarku saat ini

Suasana bergulir rumit sejajar masa yang semakin mencekik
Menabur garam di atas asinan yang sedikit lagi membuatnya memekik
Aku pikir kekakuan itu telah tercecer berbarengan lambaian tangan lentik
Namun aku salah, egonya tetap mencakar bahkan semakin mengusik

Entah apa yang telah kuperbuat di waktu yang telah lampau
Netranya selalu memancarkan betapa menyedihkan dan hinanya aku
Meski berbagai usaha telah kucoba untuk mematahkan segala pikiran kacau
Tetap saja air mata itu dia bebaskan menghanyutkan bersama keresahanku

Tuban, 09 Juli 2021


Tentang penulis:
Uswatun Kasanah lahir di Tuban pada tanggal 4 Juni 1999. Seorang mahasiswa jurusan PAI, semester 6 di salah satu kampus di Tuban. Saat ini tinggal di Desa Karangagung, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Lebih baru Lebih lama

Random Products