Teman untuk Donna

 

Sumber gambar: www.pinterest.com

Oleh: Maulida Sufi Hindun

Donna terus berlarian, gadis berusia empat tahun itu terlihat sangat bahagia. Berlari ke sana kemari untuk mengejar kupu-kupu yang sedari tadi menarik perhatiannya. Sesekali ia terjatuh, tetapi hebatnya dia tidak menangis dan kembali mengejar hewan bersayap indah itu. Dari kejauhan tampak seorang wanita dewasa memperingatkannya untuk selalu berhati-hati ketika berlari. Namun, gadis itu hanya membahas dengan senyum lebarnya yang mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja. Wanita dewasa itu hanya mampu menghela napas kasar, puteri kecilnya itu memang hiperaktif.

Suasana taman desa cukup ramai karena hari minggu. Hembusan angin menerpa rerumputan dan pepohonan yang menyisakan suara gemerisik. Bunga bewarna-warni itu menebarkan aroma semerbak, mengundang kehadiran hewan bersayap indah yang semakin menambah kecantikan dan keasrian taman. Donna terus berlari meninggalkan taman, mengejar ke mana pun kupu-kupu itu pergi. Hingga ia kini sampai di ujung taman yang terhubung dengan hutan lebat nan hijau milik kota seberang. 

Donna begitu terpana dengan hewan bersayap indah itu, sampai pandangannya teralihkan oleh seorang bocah lelaki berambut yang tak segelap apa yang dimilikinya. Bocah itu juga memiliki kulit yang lebih pucat dari kulit Donna, bahkan kedua matanya biru bak berlian di bawah sinar mentari pagi. 

Gadis kecil itu menghampiri bocah laki-laki yang menatapnya dengan senyum yang menawan. Ia langsung membalas dengan ekspresi yang sama. Pandangan keduanya beradu, seolah masing-masing sedang menyiapkan pertanyaan untuk memulai pembicaraan. 

“Nama kamu siapa?” tanya Donna.

“Namaku Edward,” jawab anak laki-laki yang berambut pirang dengan netra biru itu. 

Donna merasa tidak puas dan kembali bertanya, “Edward? Nama apa itu? Apakah ada nama seperti itu?”

“Ada. Buktinya ada aku,” jawab Edward sembari menunjuk dirinya dengan jempol mengarah kepadanya. Mungkin tidak hanya namanya yang aneh di telinga Donna, tetapi juga penampilan Edward yang bersepatu dipadu dengan celana hitam lebih tinggi dari bajunya yang memiliki sayap. 

“Kamu berasal dari mana?”

“Netherland.” Donna menoleh cepat ketika mendengar suara ibunya yang mengingatkan untuk segera pulang, hingga ia tak memperhatikan apa yang dikatakan si kecil berwajah Belanda itu. 

“Kamu tidak ingin ikut bersamaku?” tanya Donna kepadanya, Edward hanya tersenyum tersipu.

“Apa kamu memperbolehkanku pergi bersamamu?”

“Kamu tidak punya rumah?”

“Rumahku ada di sini.”

“Mana mungkin kamu tinggal di hutan? Nanti kamu kedinginan.”

“Sebaiknya kamu pulang, besok kita bertemu lagi di sini.”

“Tapi aku ingin memperkenalkanmu kepada ibuku, pasti ibu senang melihat Donna memiliki teman.” Gadis kecil itu begitu bahagia, ia menggandeng lengan Edward hingga dan berlari menyusul suara wanita yang terus memanggil namanya karena waktu untuk pulang telah tiba.

Tangan Edward terasa dingin dalam genggamannya, tetapi Donna tak begitu menghiraukannya. Saat mereka sampai di tempat yang dituju, gadis kecil itu mengatur napasnya yang terengah-engah karena baru saja berlari. 

“Ibu, Donna membawa teman baru!” Ibunya yang tadi begitu antusias kini mengerutkan alisnya, merasa bingung dengan apa yang dikatakan Donna, tetapi gadis itu tidak menghiraukan. Kebahagiaannya begitu meletup meski pertemuannya dengan Edward sangatlah  singkat. Edward adalah teman yang pertama kali ia miliki. 

“Kita akan menjadi teman untuk selamanya.” Girang Donna sembari menatap Edward dengan mata yang berbinar. Mungkin Donna tak ingat, kapan terakhir teman masa kecilnya itu pergi meninggalkannya. Hanya tersisa lambaian sampai jumpa dari Edward kecil yang disambung dengan akhir cerita dari ibunya, enam belas tahun kemudian.

“Donna, ibu tidak melihat temanmu.”

Tuban, 18 September 2021


Tentang Penulis:

Maulida Sufi Hindun, lahir di Tuban pada tahun 2002. Menyukai dunia tulis menulis sejak SD, tetapi orang tuanya harus berbohong tentang satu hal bahwa tulisannya akan diterbitkan.


Lebih baru Lebih lama

Random Products