Cermin

Sumber gambar: https://pin.it/6yYFFgr

Aku menatap diriku di depan sebuah air padat berbentuk lonjong. Jika kau melihat pantulan bayanganmu dari atas air, maka sebenarnya aku juga berada di situasi yang sama. Aku sedang bertemu dengan diriku yang mungkin tak kasat mata untuk dipandang, karena yang bisa melihatnya hanyalah diriku. Aku seperti berada di depan ujung air terjun kesunyian yang mengikatku dengan diriku sendiri. Menyisakan beberapa keheningan yang akhirnya mengawali percakapan kami berdua. 

Badanku masih tak mau diam, bergetar hebat sembari menatap bayangan yang seperti diriku. Menggeleng pelan, otakku mulai berpikir bahwa dia bukan aku, mungkin hanya jin qorin yang menemaniku sejak dilahirkan dari setetes sperma. Tidak seperti aku yang memiliki bola mata putih dan pupil hitam seperti halnya manusia, tentu saja dia jauh lebih menyeramkan dibandingkan hantu yang kulihat di berbagai sisi. Dia tak punya mata, hanya warna hitam yang membentuk mata sipit seperti cacing pipih.

“Siapa kau?” 

“Tidak akan ada kebenaran yang mengatakan kau adalah aku sementara bibir kita berbicara bersamaan.”

“Apa yang kau bicarakan? Yang benar saja! Kau mengikutiku?”

“Aku tak pernah mengikutimu. Aku yang ada bersamamu.”

 “Kenapa kau mengikutiku?” 

Hening. Aku tahu hal itu hanya ilusi, ilusi yang dibuat dan sejumput senyawa mengisinya hingga membentuk molekul baru. Terlebih molekul itulah yang mengaku sebagai diriku. Aku membuatnya sendiri, diriku yang membuat diriku yang lain dengan wujud yang berbeda. Wujud yang tak pernah disadari oleh manusia bahwa dia bukan dirimu. Tapi orang lain.

“Jadilah dirimu sendiri, merubah dirimu seperti orang lain bukan hal yang benar.” Bayangan itu mulai membuka suara lagi.

“Kau adalah orang lainnya! Kau yang menjelma sebagai diriku!” hardikku sembari menunjuk bayangan di depan cermin yang juga ikut menunjuk ke arahku. Aku menatap dirinya tak bersahabat, tetapi dia tetap saja memasang wajah datar. Dia tak memberikan reaksi apa pun kecuali tatapan matanya yang dalam dan hitam. 

“Aku adalah kau. Kau dan aku bukan siapa-siapa.”

“Menjauh dariku!”

“Siapa di antara kita seorang nafsu?” 

Nafsu? Aku tak menjawab. Mungkin diriku yang terlalu terpancing dengan keberadaannya, sehingga merasa dirikulah nafsu itu sendiri. 

“Kau menyalahkan setan karena perbuatanmu!” Suaranya lantang, menghentakan retakan-retakan ingatanku tentang sebuah nafsu dan manusia. Melekat seperti bayanganmu di antara dirimu di depan cermin. 

“Tidak!” desisku. Diriku di dalam cermin menyela, kini kedua matanya yang hitam mengeluarkan cairan merah bak lava kecil menyelubung dari sana, keluar seperti air mata yang tak pernah diakui keberadaannya. 

“Kau harus tahu itu, tidak ada setan yang mengatakan bahwa menggoda adalah salah satu tingkah lakunya! Kenikmatan ada bersama nafsu, dan nafsu melekat bersama manusia.”

Aku tatap kembali diriku dengan wajah nanar, hendak meraihnya dari balik air terjun. Namun, rasanya itu tidak mungkin. Kami tetap berada di dunia yang berbeda. Bertemu di antara perbatasan yang tak berujung. Batas barat daya tidak akan pernah ada. 

“Kau ingin menyalahkan manusia?”

“Pertanyaanmu tidak masuk akal, setanlah yang akan kau salahkan. Dan manusia selalu merasa benar. Dan itu pasti!”

“Kau ….”

“Seharusnya aku menggoda orang lebih banyak lagi. Tak usah menjerumuskan orang lain jika tidak bisa merugikan diri sendiri.”

“Tak apa ….” Aku datang menghampirinya meskipun tak dapat menyentuh. Membiarkan tubuhku bertabrakan dengan cermin ilusi yang pecah berkeping-keping menyisakan darah yang tergores karenanya. Memeluk ilusimu sendiri sepertinya bukan hal yang menyedihkan. 

Penulis: Maulida Sufi Hindun 
Editor: Rha
Lebih baru Lebih lama

Random Products