Santri dan Resolusi Jihad

 

Sumber: www.pinterest.com

Lahirnya resolusi jihad adalah sebagai bukti bahwa betapa besarnya cinta umat Islam terhadap Indonesia. Setelah dihapusnya sila pertama yang berbunyi "Dengan kewajiban menjalankan syari'at Islam bagi pemeluk-pemeluknya" diganti dengan "Ketuhanan yang Maha Esa", tak lantas membuat umat Islam gelap mata. Namun, demi persatuan dan keutuhan Indonesia, umat Islam harus bersabar dan iklhas menerimanya.

Keikhlasan umat Islam terhadap cintanya pada Indonesia kembali diuji ketika datangnya sekutu (Inggris) yang datang bersama NICA (Belanda) ingin kembali menjajah Indonesia. KH. Hasyim Asy'ari yang mempunyai pengaruh sangat besar bagi umat Islam Indonesia mengatakan bahwa "Mencintai negeri adalah sebagian dari iman" dan tepat pada tanggal 21-22 Oktober 1945, kiai Hasyim Asy'ari mengundang para ulama dan konsul-konsul Nahdlatul ulama se-Jawa, Bali dan Madura mengambil langkah-langkah yang diperlukan. 

Dari musyawarah tersebut lahirlah fatwa "Resolusi Jihad" bahwa kemerdekaan Indonesia adalah sah dan umat Islam wajib berjihad mempertahankannya. Di sinilah peran santri yang tergabung dalam laskar Hizbullah dan Sabilillah terjadi, di mana pasukan yang terdiri dari kaum santri atau kaum sarungan, berjuang mati-matian hingga titik darah penghabisan. Banyak santri yang gugur sebagai syuhada demi mempertahankan kedaulatan NKRI. Jika bukan karena cinta tanah air, untuk apa para santri berjuang mati-matian sedangkan, pada saat itu sudah ada TKR (tentara keamanan rakyat). 

Saat ini peran santri juga tak kalah penting. Jika dulu perjuangan santri berperang melawan penjajah, menjaga keutuhan negeri, dan menegakkan agama. Maka, di masa sekarang peran santri adalah melawan pemikiran-pemikiran yang ingin memecah belah NKRI atas nama agama. Santri juga berperan pada pendidikan, dengan pendidikan Islam maka akan tercipta generasi yang berkarakter religius dan berakhlak baik. Karena apa yang dipandang baik oleh agama tentu adalah baik dan begitupun sebaliknya. Selain itu santri juga harus mampu terjun ke dalam pemerintahan. Karena santri adalah generasi yang paham akan agama (Islam) dan agama butuh pemerintahan agar bisa berkembang dengan baik.

Dalam buku biografi singkat bung Hatta 1902-1980 dijelaskan bahwa Islam bukan semata-mata soal ibadah (dalam arti sempit), melainkan soal ajaran yang ditegakkan pada diri, juga masyarakat. Sekurang-kurangnya berimbas pada masyarakat, sehingga kemauan negara pun terpengaruh olehnya.

Sumber Referensi:
MN, Aguk Irawan. 2018. Penakluk Badai. Yogyakarta: Republika.

Alfarizi, Salman. 2020. Mohammad Hatta: biografi singkat 1902-1980. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.


Penulis: Faiful Mukshani
Editor: Uswatun Kasanah


Lebih baru Lebih lama

Random Products