Breaking News

Tentang kepedulian yang tidak memilih

 


Ada masa ketika hidup berjalan dengan langkah yang pincang, seolah hari-hari sengaja dibiarkan rapuh agar seseorang lain dapat masuk tanpa diundang. Pada celah itulah ia hadir, bukan sebagai jawaban, melainkan sebagai jeda dari kekacauan yang tak sempat kusebutkan pada siapa pun.

Kami belum saling mengenal dengan cukup lama, belum bertukar cerita dengan cukup makna. Namun ketika kendaraanku berhenti di tengah jalan dan waktu terasa menolak untuk berpihak, ia mengambil alih kelelahan itu. Mesin yang diam ia bawa pergi, sementara langkahnya memilih berjalan, seakan pengorbanan adalah keputusan paling wajar yang bisa diambil hari itu.

Sejak saat itu, kehadirannya muncul bukan sebagai janji, melainkan sebagai kemungkinan. Ia ada ketika kebutuhanku lebih dulu sampai daripada kata minta. Ia datang di saat-saat yang tidak berisik, pada waktu-waktu ketika aku sendiri belum sempat kuat. Bahkan pada malam ketika rumahku dipenuhi kecemasan dan doa-doa yang tertahan, ia menyelipkan kepedulian tanpa suara, tanpa menuntut untuk diingat.

Perlahan, hatiku yang terlalu manusiawi mulai menyusun tafsirnya sendiri. Tentang perhatian yang terasa mengendap, tentang usaha yang tampak memilihku, tentang isyarat yang diam-diam kuberi makna. Barangkali, pikirku, ada ruang khusus yang sedang disiapkan untukku dalam hidupnya.

Namun hidup jarang membiarkan satu tafsir berdiri sendirian.

Aku melihatnya menundukkan diri pada kebutuhan lain, mengulurkan tangan pada luka yang bukan milikku, menghadirkan kepedulian yang ternyata tidak bernama. Dan di sanalah, pada kesadaran yang terlambat, dadaku belajar tentang perih yang sunyi. Tentang rasa yang tidak salah, tetapi juga tidak berhak.

Aku pun mengerti, meski dengan jeda yang panjang. Bahwa tidak semua yang hadir membawa maksud untuk tinggal. Ada yang ditugaskan hanya untuk membantu kita berdiri, bukan menemani kita berjalan lebih jauh. Ada yang datang sebagai bentuk kasih, bukan kepemilikan.

Maka aku menarik kembali harapanku, melipatnya rapi, dan menyimpannya di tempat yang tidak lagi ingin bertanya. Jika ia adalah kiriman, biarlah ia menjadi bagian dari takdir yang sekadar lewat. Jika kebaikannya adalah pelajaran, biarlah aku lulus dengan cara yang tidak bising.

Kini, ia tidak lagi kupanggil dengan harapan, melainkan dengan syukur.

Tidak lagi kunanti, hanya kukenang.

Sebab pada akhirnya, ada pertemuan yang tidak dimaksudkan untuk dimiliki, melainkan untuk mengajarkan bagaimana caranya mengikhlaskan

tanpa harus kehilangan rasa hormat pada kebaikan itu sendiri 

Penulis : Sri lestari 

Cari sesuatu di sini

Close