Namun, penjelasan itu terlalu menyederhanakan. Ia menjawab bagaimana kita hidup, tetapi tidak menyentuh pertanyaan yang lebih penting: mengapa kehidupan itu dimungkinkan sejak awal.
Di tingkat paling dasar, tubuh manusia bergantung pada kerja mitokondria struktur mikroskopis yang mengubah nutrisi menjadi energi bagi seluruh aktivitas sel. Tanpa proses ini, tidak ada gerak, tidak ada kesadaran, bahkan tidak ada napas. Fakta yang sering diabaikan adalah bahwa organel ini diwariskan dari ibu.
Artinya, energi yang menopang kehidupan kita hari ini memiliki asal-usul yang jelas. Ia bukan sesuatu yang netral, melainkan bagian dari warisan biologis yang diturunkan melalui ibu.
Di sinilah pernyataan “aku bernapas karena ibu” menemukan maknanya yang paling konkret. Ia bukan sekadar ungkapan emosional, melainkan pengakuan bahwa kehidupan manusia bahkan pada level seluler adalah kelanjutan dari sesuatu yang berasal dari ibu. Ia tidak berhenti pada proses melahirkan, tetapi terus bekerja dalam diam, menjaga agar kehidupan tetap berlangsung.
Metafora the eternal battery menjadi relevan: ibu adalah sumber energi yang tidak hanya memberi kehidupan, tetapi juga menopang keberlanjutannya. Energi itu tidak selalu terlihat. Ia hadir dalam perhatian yang konsisten, dalam pengorbanan yang tidak terhitung, dan dalam daya tahan yang jarang diakui.
Masalahnya, justru karena peran itu berlangsung terus-menerus, ia dianggap sebagai sesuatu yang “biasa”.
Dalam struktur sosial, kerja keibuan hampir tidak pernah diperlakukan sebagai kerja. Ia tidak masuk dalam perhitungan ekonomi, tidak tercermin dalam indikator kesejahteraan, dan jarang menjadi pusat perhatian kebijakan publik. Pengorbanan ibu direduksi menjadi kodrat seolah-olah ia tidak membutuhkan pengakuan, apalagi distribusi tanggung jawab yang adil.
Kita hidup dari kerja keibuan, tetapi membangun sistem yang tidak pernah mengakuinya sebagai kerja.
Paradoks ini menjadi semakin nyata di tengah tekanan ekonomi keluarga dan beban ganda yang terus meningkat. Banyak ibu tidak hanya menjalankan kerja domestik yang tidak dibayar, tetapi juga berkontribusi secara ekonomi di ruang publik. Namun, keduanya tetap tidak memberi posisi tawar yang setara. Yang terjadi justru penumpukan tanggung jawab tanpa diiringi pengakuan yang layak.
Di sinilah persoalannya bukan lagi sekadar kultural, melainkan struktural.
Kita terlalu mudah mengagungkan kemandirian, seolah-olah manusia dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada siapa pun. Padahal, setiap individu adalah hasil dari relasi dan pengorbanan yang tidak pernah sepenuhnya diakui. Kemandirian, dalam banyak hal, dibangun di atas ketergantungan yang disangkal.
Refleksi tentang napas seharusnya mengoreksi cara pandang ini. Bernapas bukan hanya tanda bahwa kita hidup, tetapi juga pengingat bahwa hidup ini tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ada energi yang kita warisi, ada peran yang terus bekerja, bahkan ketika kita tidak lagi menyadarinya.
Ironisnya, masyarakat modern mungkin tidak kekurangan energi, tetapi kekurangan kejujuran untuk mengakui dari mana energi itu berasal.
Karena itu, mengatakan “aku bernapas karena ibu” seharusnya tidak berhenti sebagai pengakuan personal. Ia perlu menjadi kesadaran kolektif yang mendorong perubahan cara pandang bahwa ada kerja fundamental yang selama ini diabaikan, ada sumber kehidupan yang terus dimanfaatkan tanpa pernah benar-benar dihargai.
Selama peran ibu masih dianggap sebagai sesuatu yang otomatis, selama itu pula kita akan terus hidup dalam ketimpangan pengakuan. Kita akan terus bernapas dari energi yang sama, tetapi tanpa kesadaran yang setara terhadap asal-usulnya.
Pada akhirnya, napas bukan sekadar urusan biologis. Ia adalah jejak bahwa dalam setiap kehidupan, selalu ada seseorang yang lebih dulu memberi energi agar kehidupan itu mungkin terjadi.
Dalam banyak kasus, seseorang itu adalah ibu.
Oleh : Andhika Fatchur Widyanto
Social Footer