Breaking News

Langkah Kilat Jarkominfo: Personel Terpangkas, Pulang Bawa Piala Juara Utama


Sabtu pagi yang cerah di Perpustakaan Universitas PGRI Ronggolawe Tuban menjadi saksi bisu lahirnya sebuah karya visual yang sarat makna. Hari itu, 9 Mei 2026, sejumlah mahasiswa berkumpul untuk mengasah kreativitas dalam sebuah workshop videografi. Di antara para peserta, tampak delegasi dari Divisi Jarkominfo Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Makhibra.

Namun, ada cerita menarik sebelum dinamika kelas dimulai. Di atas kertas, Divisi Jarkominfo mendelegasikan tiga personel terbaiknya: Wafa, Nailussaid, dan Musthofa. Sayangnya, hingga peluit tanda acara dimulai berbunyi, Musthofa berhalangan hadir. Alih-alih kendor karena kehilangan satu pilar, Wafa dan Nailussaid justru memilih untuk melangkah maju dengan sisa energi yang berlipat ganda. Mereka tetap bersemangat menembus ruang pelatihan

Menjawab Tantangan Era Visual
Pergeseran zaman memang memaksa media kampus untuk keluar dari zona nyaman. Jika dahulu corong informasi LPM hanya bertumpu pada lembaran berita tulisan dan jepretan foto dokumentasi yang kaku, kini zamannya sudah berbeda. Mahasiswa dituntut lebih kreatif karena masyarakat, terutama generasi muda yang adaptif dengan media sosial, jauh lebih mudah menyerap informasi berbasis audio-visual.

Di ruang workshop itulah, Wafa dan Nailussaid digembleng secara maraton. Mereka dipaksa melahap berbagai materi teknis, mulai dari mematangkan penyusunan konsep, seni mengambil gambar yang presisi, hingga trik di dapur editing. Pemateri juga membedah anatomi berbagai konsep video, seperti teknik sinematik, pembuatan film pendek, hingga penggarapan video dokumenter yang kuat.

Bagi mereka, ini bukan sekadar pelatihan teknis biasa.

"Kegiatan seperti ini sangat penting. Bukan cuma menambah keterampilan di bidang media kreatif, tapi juga memantik rasa percaya diri kami untuk menuangkan ide dan gagasan lewat karya visual. Di era sekarang, videografi sudah jadi kebutuhan mutakhir di organisasi maupun kampus," ungkap Wafa yang diiyakan oleh Nailussaid.

Pesan Spiritual di Balik Podium Juara
Puncak dari workshop ini adalah simulasi pembuatan video edukatif. Di sinilah keajaiban itu terjadi. Dengan waktu yang terbatas dan tim yang ramping, duet Jarkominfo ini berhasil meramu sebuah video pendek yang memukau para juri hingga dinobatkan sebagai Juara Pertama.

Bukan video hura-hura, mereka justru berani mengambil sudut pandang yang mendalam: Edukasi Kerohanian.

Melalui lensa kamera, mereka memotret realitas pahit generasi masa kini:
● Banyak anak muda yang rentan merasa tertekan oleh kerasnya keadaan.
● Adanya kecenderungan berfokus pada masalah, hingga kerap kehilangan arah.

Lewat video tersebut, mereka menyisipkan pesan moral penyejuk jiwa agar generasi muda tidak mudah putus asa. Mereka mengingatkan bahwa setiap badai persoalan hidup sejatinya bisa dilalui jika dihadapi dengan kombinasi yang pas: kesabaran, usaha nyata, doa, dan komitmen untuk tetap mendekatkan diri serta meningkatkan ibadah kepada Allah SWT. Sebuah pesan yang terasa sangat menampar sekaligus relevan dengan kondisi psikologis Gen-Z saat ini.

Aset Berharga untuk LPM
Keberhasilan ini membawa angin segar bagi masa depan organisasi. Di era di mana konten visual sudah menjadi kebutuhan pokok dan bukan lagi sekadar keterampilan sampingan, kemampuan yang dibawa pulang oleh Wafa dan Nailussaid adalah investasi besar.
Pelatihan videografi ini pada akhirnya membuktikan satu hal: kamera dan aplikasi editing bukan hanya alat untuk merekam visual. Lebih dari itu, jika berada di tangan yang tepat, keduanya bisa menjelma menjadi senjata modern yang efektif untuk menyebarkan pesan positif, menginspirasi masyarakat, sekaligus membangun kualitas mahasiswa di tengah derasnya arus teknologi.

Penulis: Rahayu Setiya Wati



0 Komentar

Cari sesuatu di sini

Close