Breaking News

Lewat “Sangka”, Teater Saung Art-Ma Sampaikan Pesan Sosial tentang Bullying


UKM Teater Saung Art MA IAINU Tuban kembali menggelar pementasan bertajuk “Sukma Karya” pada Sabtu, 18 April 2026 di Aula Lt.3 Gedung Makhdum Ibrahim IAINU Tuban. Kegiatan yang dimulai pukul 18.00 WIB tersebut menampilkan pertunjukan teater berjudul “Sangka” yang mengangkat isu bullying di lingkungan pondok pesantren.

Pementasan ini berhasil menarik perhatian penonton karena mengangkat realita sosial yang dekatdengan kehidupan masyarakat, khususnya di lingkungan pondok. Cerita dalam teater “Sangka” menggambarkan tindakan bullying fisik maupun mental yang masih sering terjadi dan memberikan dampak bagi korban.

Sutradara pementasan, Luthfy Sholichi Mu’Affa, mengatakan bahwa ide cerita dalam teater
tersebut berasal dari fenomena yang sering ditemui di lingkungan pondok pesantren.

“Pementasan ini terinspirasi dari area pondok yang terdapat bullying, yaitu bullying fisik dan
mental,” kata Luthfy.

Melalui pementasan tersebut, ia ingin menyampaikan bahwa kehidupan di pondok sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kehidupan bermasyarakat pada umumnya. Menurutnya, pondok pesantren juga menjadi tempat belajar bersosialisasi dan memahami kehidupan sosial. Ia menambahkan bahwa tindakan bullying memang dapat dikurangi, namun sulit dihilangkan sepenuhnya karena akan selalu muncul pelaku-pelaku baru di lingkungan sosial.

Dalam proses persiapan pementasan, para pemain dan kru menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam membangun kekompakan tim. Hal tersebut disebabkan karena setiap anggota memiliki kesibukan dan jadwal yang berbeda-beda.

Luthfy menjelaskan bahwa beberapa anggota sudah mulai bekerja, sementara anggota yang berasal dari pondok baru dapat mengikuti latihan setelah mendapat izin keluar pondok pada malam hari.

“Jadi meskipun kumpul habis maghrib, latihan baru dimulai habis isya,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menyebut bahwa sebagian besar anggota teater merupakan perempuan sehingga latihan fisik tidak dapat dilakukan secara maksimal. Meski demikian, seluruh anggota tetap berusaha menjalani proses latihan dengan serius demi menampilkan pertunjukan terbaik.

Persiapan pementasan ini membutuhkan waktu yang cukup panjang. Untuk penyusunan jadwal latihan dan persiapan awal memakan waktu sekitar empat bulan, sedangkan proses persiapan matang mulai dari finalisasi naskah hingga konsep panggung dilakukan selama satu bulan penuh.

Pementasan “Sukma Karya” melibatkan tujuh aktor dan aktris yang terdiri dari lima karakter utama dan dua karakter pendamping. Selama proses latihan, para pemain tidak hanya dituntut menghafal dialog, tetapi juga mendalami karakter dan membangun chemistry antar pemain agar suasana cerita dapat tersampaikan dengan baik kepada penonton.

Kendala teknis juga sempat terjadi saat pementasan berlangsung. Penggunaan bedak tabur di atas panggung membuat lantai menjadi licin dan sulit dibersihkan. Meski begitu, seluruh peralatan dan kebutuhan teknis lainnya tetap berjalan dengan aman dan lancar.

Salah satu aktris pementasan, Dinda, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar selama proses latihan adalah membagi waktu antara latihan dan aktivitas lainnya.

“Tantangan paling terasa biasanya membagi waktu antara latihan dan kegiatan lain, apalagi kalau anggota tim punya jadwal yang berbeda-beda,” ujar Dinda.

Menurutnya, proses latihan teater membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Para pemain harus menghafal dialog, memahami emosi karakter, hingga menjaga kekompakan antar anggota tim.

“Kadang ada rasa capek atau jenuh, tapi itu jadi bagian dari perjalanan latihan,” lanjutnya.

Dinda juga menilai bahwa seni teater perlu terus dilestarikan di lingkungan kampus karena memiliki banyak manfaat bagi mahasiswa, tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai sarana belajar dan berekspresi.

“Teater bukan cuma soal pertunjukan, tapi juga tempat belajar kerja sama, keberanian berbicara, kreativitas, sampai memahami kehidupan dari sudut pandang yang berbeda,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kerja sama tim menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan sebuah pementasan. Mulai dari pemain, penata musik, lighting, hingga tim dekorasi memiliki peran masing-masing dalam mendukung jalannya pertunjukan.

Untuk membangun kekompakan antar pemain, para anggota biasanya menghabiskan waktu
bersama di sela latihan dengan berbincang dan bercanda agar suasana tidak terlalu tegang. Cara tersebut dinilai mampu membangun rasa nyaman dan saling percaya antar pemain.

Menjelang tampil di atas panggung, rasa gugup juga menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain. Namun, mereka memiliki cara masing-masing untuk mengurangi rasa gugup tersebut, salah satunya dengan saling memberi semangat sebelum pertunjukan dimulai.

“Biasanya kami saling memberi semangat satu sama lain sebelum naik panggung,” tutup Dinda.

Penulis: Khoirunnisak 

0 Komentar

Cari sesuatu di sini

Close